Add New Feed
X
RSS URL    
Please insert a full address, for example: http://www.yourrsswebsite.com/rssfeed
FREE Passwords manager Click here
Want to be informed when this page is updated? Enter email here   Notify me       
X
Please note that content update alert service is much better then adding a page to favorites.

Once this page content is updated you'll receive an e-mail with a link to this page

Please enter email here
      
No thanks, continue to add to Favorites
BENTARA KEUSKUPAN DENPASAR
Add To Favorite

479614


.


Susteran Abdi Kristus (AK)
Susteran Abdi Kristus (AK) saat ini berkarya di Cakranegara Lombok dan Padangtawang Babakan Bali. Biara di Cakranegara beralamat di Jl. Beo No. 6 Cakranegara Mataram 83231 Lombok – NTB; Telepon (0370) 632123.Bidang Pelayanan adalah Karya Pastoral Paroki dan Pendidikan.

Susteran Carolus Boromeus
Di Keuskupan Denpasar Suster-suster Carolus Boromeus (CB) bertempat tinggal di Denpasar dan Tangeb. Biara di Denpasar beralamat di Susteran Siti Miryam Jln. Suli No. 72 Denpasar 80233 Telepon (0361) 232248. Para suster berkarya di bidang karya social.Sedangkan di Tangeb, para suster CB menempati biara CB Tangeb dan alamat yang dapat dihubungi adalah Susteran CB Tangeb Puskesmas Pembantu Panti Swasti TengebTelepon (0361) 428137.

Kongregasi St. Fransiskus (OSF)
Di Keuskupan Denpasar OSF berkarya di Bali yakni di kota Denpasar, Tuka, Negara dan Palasari. Susteran OSF Sanglah dengan alamat Susteran OSF Sanglah Jl. Serma Kawi No. 7 Denpasar 80114 Telepon (0361) 224466.Bidang Pelayanan: Pastoral Paroki, Kelompok Kategorial, Pendidikan dan karya social.
Susteran OSF Sidhi Astu Tuka beralamat di Jl. Raya Tuka - Tuka – Dalung Telepon (0361) 7473827; 437049. Bidang Pelayanan:Karya Sosial, Kesehatan dan Pastoral Paroki.
Susteran OSF Negara beralamat di Jl. Ngurah Rai No. 143 Negara 82213 Telepon (0365) 41537.Bidang Pelayanan: Kesehatan, Pendidikan dan Pastoral Paroki. Susteran OSF Palasari beralamat di Susteran Negara Jl. Ngurah Rai No. 143; Negara Telepon (0365) 42126. Bidang Pelayanan: Karya Sosial, Kesehatan dan Pastoral Paroki.

Susteran PRR (Putri Reinha Rosari)
Suster-Suster PRR di Keuskupan Denpasar berkarya di Paroki Tabanan yakni di Kota Tabanan dan Stasi Piling. Susteran PRR Piling, Alamat :Susteran PRR Piling Penebel 82125 Kotakpos 1; Tabanan. Bidang Pelayanan: Karya Sosial.
Susteran PRR Tabanan, Alamat : Jln.Diponegoro No. 9 Tabanan Telepon (0361) 814852. Bidang Pelayanan: Karya Sosial, Pendidikan dan Pastoral Paroki.

Susteran RVM (Religiousof of Virgin Mary)
Di Keuskupan Denpasar suster-suster RVM berkarya di Paroki Tangeb dan Paroki Kuta. Susteran RVM Abianbase, Alamat Susteran RVM Abianbase – Mengwi; Tlp. (0361) 416387. Bidang Pelayanan: Karya Sosial, Pendidikan dan Pastoral Paroki.Susteran RVM Kuta, Alamat : Jl. Mertha Jati No. 3; Kuta, Telepon (0361) 758040. Bidang Pelayanan: Karya Sosial, Pendidikan dan Pastoral Paroki.

Susteran SSpS (Abdi Roh Kudus)
Di Keuskupan Denpasar suster-suster SSpS berkarya di Pulau Bali, Lombok dan Sumbawa. Di Pulau Bali berkarya di Paroki Singaraja,di pulau Lombok berkarya di Paroki Ampenan dan di Pulau Sumbawa berkarya di Paroki Bima.
Di Singaraja SSpS beralamat di Susteran SSpS Singaraja, Jl. Gunung Agung No. 27 Singaraja 81117, Telepon (0362) 29156. Bidang Pelayanan: Kesehatan dan Pastoral Paroki.
Di Ampenan Lombok, susteran SSpS St. Antonius beralamat di Jln. Koperasi No. 61 Karang Ujung – Ampenan Lombok – NTB ; Telepon (0370) 636767. Bidang Pelayanan: Kesehatan dan Pastoral Paroki.
Di Raba Bima, SSpS beralamat di Biara SSpS Beata Maria Helena Jl. Dam Rontu – Raba Bima – NTB Telepon (0374) 44509. Bidang Pelayanan: Kesehatan dan Pastoral Paroki.

Susteran JMJ (Jesus Maria Joseph)
Suster-Suster JMJ berpusat di Sint Janssingel 88 5211 DA ‘S-Hertogenbosh Nederland. Pimpinan tertinggi adalah Sr. Theresia Supriyati,JMJ dan telepon yang dapat dihubungi adalah +31 (0) 73-6872440 Fax: +31 (0) 213923285.
Di Indonesia Provinsialat JMJ berkedudukan di jalan Malang 23 Jakarta Telp: 0062 (0) 213151664 Fax: 0062 (0) 213923285. Sebagai provinsialnya adalah Sr. Lucia Tolok,JMJ. Sedangkan di keuskupan Denpasar suster-suster JMJ berkarya di Paroki Sumbawa. Biara mereka beralamat di Susteran Tritunggal Jalan Diponegoro 34 Sumbawa Besar 84313 Telp: 0371-21948. Pimpinan biara Sr. Albertine Siampa Bongi,JMJ.
Para anggota komunitas adalah; Sr. Margaretha Kowaas, JMJ lahir di Manado 9 Mei 1969, Sr. Anina Ering,JMJ lahir di Tomohon 8 April 1950, Sr. Imeldine Rumengan,JMJ, lahir di Keroit 22 Juni 1971 dan Sr. Maria Goretti,JMJ lahir di Atapupu 0 Januari 1976. Bidang karya yang diemban adalah pendidikan, kesehatan dan social pastoral.
Suster-suster JMJ berkarya juga di Kota Dompu, kabupaten Dompu dan biara mereka beralamat di Jalan jenderal Ahmad Yani No 11 Dompu NTB. Anggota komunitas adalah Sr. Ancila Danun,JMJ lahir di Toraja 25 Oktober 1944 dan Sr. Maris Stella Saroinsong, JMJ lahir di Tompaso 7 Desember 1960. Bidang karya, pendidikan dan social pastoral.
Di Kota Denpasar, suster-suster JMJ beralamat di Jalan Tukad Badung 9A Renon Telp: 0361-255450. Anggota komunitas; Sr. Albertine Siampa Bongi,JMJ lahir di Toraja 17 November 1947, Sr. Stefania Assa,JMJ lahir di Naitnenas 26 Desember 1983 dan Sr. Anna Dasilva,JMJ lahir di Tanjung Pinang 24 Agustus 1963. Bidang karya, pendidikan dan social pastoral.

Susteran CIJ (Suster-suster Pengikut Yesus)
Di Keuskupan Denpasar para suster CIJ berkarya di Paroki Tuka. Para suster bersama dengan Yayasan Kolese St. Yusuf milik para imam CCD mengelola persekolahan St. Yoseph di Tegaljaya. Alamat : Rumah Khalwat Tegal Jaya Jl. Kubu Gunung Br. Tegal Jaya – Dalung Telepon (0361) 426545. Bidang Pelayanan: Pendidikan dan Pastoral Paroki.

Susteran SPM Amlapura (Santa Perawan Maria)
Suster-Suster Kongregasi Santa Perawan Maria (SPM) Amlapura mulai berkarya sejak tanggal 11 Oktober 2000 ditandai dengan diresmikannya komunitas SPM di Amlapura oleh Mgr. Dr. Benyamin Yoseph Bria,Pr, Uskup Denpasar wajtu itu. Peresmian itu didampingi oleh Pastor stasi Amlapura waktu itu Rm. Laurensius Maryono,Pr dan Pastor Paroki Gianyar, Rm. Handriyanto. Jumlah suster yang diutus saat itu tiga orang. Mereka berkarya di bidang pendidikan di Amlapura dan Klungkung.
Tanggal 1 April 2006 dibuka taman penitipan anak ‘Stella Maris” yang diresmikan dengan perayaan ekaristi oleh Pastor Stasi Amlapura dan Klungkung P. Agustinus Keluli, OCD. Alasan didirikan Taman Penitipan Anak adalah menjawab kebutuhan masyarakat setempat yang orangtuanya bekerja dan anak-anak mereka mendapat perhatian.
Tanggal 26 Juni 2010 Suster Stefani diantar Sr. Yulita selaku Provinsial SPM dan Sr. Yohani selaku pimpinan komunitas Amlapura menghadap Mgr. Silvester San,Pr menyampaikan bahwa kongregasi SPM menanggapi tawaran untuk berkarya di bidang pendidikan di SDK Insan Mandiri yang berlokasi di Jalan Untung Suropati No.448 Amlapura. Hasilnya Ketua Yayasan Insan Mandiri Romo Hady Setiawan menyerahkan pengelolaan SDK Insan Mandiri kepada suster-suster SPM dan Sr. Stefani sebagai kepala sekolahnya.
Alamat : Susteran SPM Amlapura Jl. Untung Surapati No. 8; Amlapura Tlp. (0363) 23125. Bidang Pelayanan: Karya Sosial dan Pastoral Paroki. Anggota Komunitas : Sr. Yohani, SPM, Sr. Kalista, SPM, Sr. Susan, SPM dan Sr. Selfina, SPM.

Suster-Suster Putri Cinta Kasih Canossian (FdCC)
Suster-Suster Putri Cinta Kasih Canossian atau Figlia Della Carita Canossiane (FdCC) berpusat Roma Italia dengan alamat Eglie Della Carita Canossiane, Via Della Stazione di Ottavia,70 00135 Roma Telp: 06-3082-8012 Fax: 06-3082-8037. Pimpinan tertinggi adalah Sr. Margaret Peter,FdCC.
Di Indonesia FdCC berada di Bintaro dengan alamat Biara Canossa Jalan Canossa Ceger Raya Jurang Mangu Timur Pondok Aren Telp: 021-7356349 Fax: 021-73556345. Pimpinan di Indonesia Sr. Iolanda Vezzoli,FdCC.
Di Keuskupan Denpasar FdCC berkarya di Gianyar dan beralamat di Susteran Canossa Jl. Mulawarman No. 92A; Ginyar Tlp. (0361) 945263, Fax: 0361-945263. Pimpinan biara adalah Sr. Edna Macabilas FdCC. Suster-suster anggota komunitas adalah; Sr. Natalia da Costa Neri lahir di Suai Timor Leste 14 Januari 1967, Sr. Maria Fice Nipu lahir di Kefamenanu 27 Februari 1985 dan Sr. Mery Dioniana Nahak lahir di Atambua 0 Oktober 1985.
Konggregasi ini didirikan oleh Magdalena Gabriela dari Canossa pada tanggal 8 Mei 1808. Magdalena lahir di Verona pada 1 Maret 1774 dari keluarga bangsawan. Ia meninggal pada 10 April 1835. Panggilan missioner diwujudkan pada tanggal 26 Februari 1860 di Hongkong dan menyebar ke Tsina, Timor Leste, India, Malaysia, Filipina, Jepang, Australia, Singapura.
Bidang Pelayanan adalah Pendidikan, evangelisasi, pastoral orang sakit, pendampingan rekoleksi dan pendampingan doa serta administrasi di paroki.

Brigit’s Sister
Brigit’s Sister di Keuskupan Denpasar berkarya di Paroki Katedral Denpasar. Biara beralamat di Jl. Tukad Musi VI No. 8; Denpasar Tlp. (0361) 245357. Bidang Pelayanan: Karya Sosial dan Pastoral Paroki.

Susteran Maria Berdukacita (MBC)
Di Keuskupan Denpasar suster-suster MBC berkarya di Paroki Kuta. Rumah biara beralamat di Jl. Dewi Sartika, Gg. Palapa No. 4 Kuta – Bali. Bidang Pelayanan: Karya Sosial.

Ordo Penyelamat Tersuci Santa Brigita (O.SS.S)
Ordo Penyelamat Tersuci Santa Brigita berpusat di Ilalia dan beralamat di Casa Santa Brigida, Plazza Farneze -96 00186 Roma Italia. Saat ini dipimpin oleh Mother Maria Tekla Famiglietti,O.SS.S. Telpon yang dapat dihubungi: +39-06-68892596 Fax: +39-06-68891573.
Di Indonesia Susteran St. Brigita berada di Jalan Teka Iku Jurusan Brai Kelurahan Waioti Kecamatan Alok Maumere Kabupaten Sikka. Pimpinan di Indonesia Mother Phillys O.SS.S. Nomor yang dapat dihubungi: HP 081 339151500.
Di Keuskupan Denpasar biara suster-suster O.SS.S di Jalan Batusari No.10 Banjar Mandala Sari Kelurahan Dangin Kelod Denpasar. Nomor telepon dan fax yang dapat dihubungi: 0361- 238664 Fax: 0361- 245286. Suster-suster yang berkarya di Keuskupan Denpasar adalah Sr. Regina, O.SS.S, lahir di Marne India tanggal 4 Oktober 1948 dan Sr. Jenissa,O.SS.S kelahiran Belu 4 November 1986. Karya pastoral, kegiatan ekumene, bidang pastoral dan kegiatan social.

Suster-Suster Santa Maria Berdukacita Hamba-Hamba Maria Dari Napoli
Berpusat di Istituto Stella Mattutina dengan alamat via Sant Antonio Abate,11 80139 Napoli Roma Italia. Saat ini dipimpin oleh Sr. M. Rosalba Valenti. Nomor telepon yang dapat dihubungi: Telp: +39 8145 1901 Fax: 081 451901.
Di Indonesia biaranya berpusat di Jalan Ahmad Yani 45 Kelurahan Tenda Ruteng Flores 86508. Nomor telepon yang dapat dihubungi: 0385- 22834 Fax: 0385- 22834. Pimpinan di Indonesia adalah Suster M. Alicia Sandosal de Luna.
Di Keuskupan Denpasar biaranya berkedudukan di Jalan Dewi Sartika Gang Palapa No 4 Tuban, Kuta Bali, Telpon 0361-756842. Pimpinan adalah Sr. Alicia Sandoval de Luna. Suster-suster lainnya yang berkarya di Keuskupan Denpasar adalah; Sr. M. Beata Mawung lahir di Manggarai Rua, 21 Juli 1971, Sr. Maria Susilawati M. Djawa, lahir di Bajawa 26 Desember 1979 dan Sr. Bergita Kolo lahir di Bakitolas 21 Desember 1984. Bidang karya; sekolah, pastoral paroki, rumah yatim piatu, pemondokan/penginapan dan asrama.

Kongregasi Murid-Murid Tuhan
Kongregasi MDi Indonesia biara pusat berada di Jalan Panglima Sudirman No.92 Batu 65113, Telpon: 0341 592081. Pimpinan di Indonesia adalah P. Lodewyk Tshie,CCD. Di Keuskupan Denpasar biara berkedudukan di Rumah Khalwat Tegaljaya Jl. Kubu Gunung 888, Tegaljaya Dalung Kuta Utara Badung 80120, telpon: 0361- 426545 Fax: 0361- 426376. Pimpinan, Rm. Yandhie Buntor,CCD. Anggota komunitas Rm. Willy M Batuah, lahir di Jember 30 Maret 1940.


PROFIL KELOMPOK KATEGORIAL

Pemuda Katolik
Pemuda Katolik berdiri pada tanggal 15 November 1945 di Yogyakarta. Saat ini ketua umum adalah MT Natalis Situmorang, S.Hut,MSi. Sekretariatnya beralamat di Jl. Letjen Suprapto No 80 Galur, Tanah Tinggi, Jakarta Pusat 10540 Telp: 021-93176745, HP: 081 385754015, E-mail:pp_pemudakatolik@yahoo.com, website:www.pp-pemudakatolik.org.
Di Keuskupan Denpasar Pemuda Katolik berada di Denpasar dan NTB. Korwil Bali, NTB dan NTT dan Ketua Komda Bali adalah A.G.Dj. Edy Sugiarto,S.Tp beralamat di Jalan Thamrin I/8 Pemecutan Denpasar, E-mail:merdeka222@yahoo.com, facebook:edysoegi@yahoo.com.Komda Denpasar berdiri sejak 15 November1960. Komcab-Komcabnya; Badung, Tabanan, Denpasar, Jembrana dan Buleleng.
Komda NTB beralamat di Jalan Seruni No.5 Karang taruna Mataram Lombok HP: 085 239913929 (GSM) dan Ketua Komda adalah Adolfus Salim Baco,SPd. Komcab yang ada; Mataram, Lombok Barat, Lombok Tengah, Sumbawa, Dompu, Donggo dan Bima
Visi Pemuda Katolik adalah; Menjadi organisasi kader yang handal bagi kaum muda katolik dalam berkiprah bagi Gereja dan bangsa. Missi pemuda katolik; Mencetak kader-kader muda katolik yang berjiwa kristiani dan bersemangat kebangsaan, Menjadi tempat berpijak yang kokoh bagi kaum muda katolik melangkah maju dalam berkiprah di bidang social kemasyarakatan, Menjadi ‘rumah’ yang nyaman untuk dihuni oleh keluarga besar pemuda Katolik yaitu para anggota dan alumni pemuda katolik.

Marriage Encounter (ME)

ME berdiri sejak tahun 1962 di Barcelona Spanyol dan pada tahun 1975 masuk ke Indonesia. Berada di keuskupan denpasar pada 22 September 1991. Sekretariat di Denpasar; Jalan Kartini No 110 Denpasar Telp: 0361-7472333 Fax: 0361-231157, E-mail:meykris@yahoo.com.
Visi ME adalah “Cintailah satu sama lain seperti Aku mencintaimu (Love one another as I have love you). Missi, memperbarui Gereja dan merubah dunia dengan membantu para pasutri dan para imam untuk hidup dalam relasi yang akrab dan bertanggung jawab dengan memberikan mereka pengalaman secara katolik dan dukungan komunitas yang berkesinambungan untuk menunjang gaya hidup itu.
Saat ini ME diketuai Romo Flavianus Endi,Pr dan Pasutri Kris-Mey (Koordinator ME Distrik XII Keuskupan denpasar). Nomor yang dapat dihubungi: 081 1396310. Jumlah anggota, laki-laki 582 orang dan perempuan 598 orang.
Kegiatan rutin adalah; Menyelenggarakan weekend ME bagi pasutri, para room, para suster, rohaniwan/wait baik katolik maupun non katolik, Mengadakan pertemuan atau dialog dalam komunitas dan Menghadiri acara siding dewan nasional yang diadakan setiap tahun.
Peran serta dalam menggereja adalah membantu mewujudkan gereja kecil dalam rumah tangga, mendukung kegiatan liturgy gereja, membantu dalam kursus persiapan pernikahan dan pembekalan bagi orang tua anak komuni pertama serta mengadakan ziarah rohani.
Peran serta dalam masyarakat antara lain; memberi solusi kepada keluarga agar dapat hidup dalam relasi suami isteri byang erat/akrab dan bertanggung jawab, ikut menyosialisasikan dan berusaha menerapkan program kesetaraan jender sebagai pasangan suami dan istri serta menyadarkan para suami dan istri untuk tidak melakukan kekerasan dalam rumah tangga.

Kelompok kategorial lainnya
Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI), Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) dan Forum Komunikasi Mantan Anggota (Forkoma) PMKRI, Ikatan Para Medis Katolik (Perdhaki), Ikatan katekis Bali (IKB), Solidaritas Jurnalis Katolik Bali (SJKB), Persatuan Guru Katolik (PGA), Kelompok Seniman Katolik (KSK), Ikatan Advokat Katolik, Ikatan Karyawan Hotel dan Travel, Persatuan Usahawan Katolik (Pukat) dan Kelompok Nelayan Katolik, PD Karismatik, PD Aloysis Gonzaga, PD Don Bosco, Legio Maria, Tulang Rusuk, Kelompok Cinta Kasih, Kelompok Kerahiman, Kelompok Karyawan Muda Katolik (KKMK), Komunitas mahasiswa Katolik Unud, Komunitas Mahasiswa Katolik Unwar, Komunitas mahasiswa Katolik Undiknas, Couple for Christ/Pasukris, PD kanisius, Kelompok Tritunggal Mahakudus, Sekolah Minggu, CEFA, Pancaran Kasih Bunda, Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI), DJOCC dan Pasukan Yehuda.

YAYASAN PENDIDIKAN

Yayasan Insan Mandiri
Yayasan Bina Insan Mandiri adalah Yayasan milik Keuskupan Denpasar yang menjadi payung bagi sekolah-sekolah katolik di Keuskupan Denpasar.Sebelum bernama Yayasan Bina Insan Mandiri lebih dikenal dengan nama Yayasan Swastiastu.
Yayasan Bina Insan Mandiri berkantor pusat di Jl. Serma Kawi No 6 Denpasar Telp: (0361) 225147. Cabang-cabangnya yakni Yayasan Bina Insan Mandiri Cabang Lombok Jl. Majapahit No. 9 Ampenan, Tlp. (0370) 635427 dan Yayasan Insan Mandiri Cabang Sumbawa Jl. Diponegoro No. 34; Sumbawa Besar No. Tlp/Fax. (0371) 23182.
Sekolah-sekolah yang bernaung di bawah Yayasan Insan Mandiri mulai dari tingkat TKK sampai SMU.
1) Taman kanak-Kanak:TKK Bintang Kejora Amlapura Jl. Untung Surapati–Paya; Amlapura Telepon (0363) 21771, TKK Kuncup Mekar Denpasar Jl. Ida Bagus Oka – Denpasar, Telepon (0361) 234068, TKK St. Yoseph Denpasar Jl. P.B. Sudirman;Telepon (0361) 223956, TKK St. Maria Gianyar Jl. Mulawarman No. 92 A Gianyar; Tlp. (0361) 93457, TKK Thomas Aquino Tuka, TKK Swastisari - Palasari – Melaya, TKK St. M. Immaculata Tabanan Jl. Diponegoro No. 9 Tabanan Telepon (0361) 814854, TKK St. Maria Singaraja Jl. Kemboja No. 3a; Singaraja 81116; Tlp (0362) 21366, TKK St. Don Bosko Cakranegara Jl. Beo No. 3a Cakranegara; Mataram – Lombok Tlp (0370) 631342, TKK St. Antonius Ampenan Jl. Majapahit No. 9 Ampenan 83114 Tlp. (0370) 624188, TKK Sari Asih Sumbawa Besar, Jl. Diponegoro No. 34; Sumbawa Besar 84313 dan TKK Slamet Riyadi Dompu Jl. A. Yani No. 10 – Dompu – NTB.
2). Sekolah Dasar (SD): SDK Santo Yoseph I Denpasar Jl. Serma Kawi No. 2 Denpasar Tlp. (0361) 225166, SDK Santo Yoseph II Denpasar Jl. Serma Kawi No. 2 Denpasar Telepon (0361) 226123, SDK Thomas Aquino Tuka Tuka - Dalung – Kuta, SDK Budi Rahayu Palasari Palasari – Melaya, SDK Amlapura Jl. Untung Surapati Amlapura; Telepon (0363) 21771, SDK St. M. Immaculata Tabanan Jl. Diponegoro No. 9 Tabanan, Telepon (0361) 814853, SDK Karya Singaraja, Jl. Kamboja No. 3a Singaraja 81116 Telepon (0362) 21082, SDK St. Antonius Cakranegara Jl. Beo No. 3a Cakranegara Mataram – Lombok Telepon (0370) 632090, SDK St. Antonius Ampenan Jl. Majapahit No. 9 Ampenan Telepon (0370) 621365 dan SDK Diponegoro Sumbawa Besar Jl. Diponegoro No. 34; Sumbawa Besar.
3). Sekolah Menengah Pertama (SMP) :SMPK Santo Yoseph Denpasar Jl. PB. Sudirman, Denpasar; Tlp. (0361) 223040, SMPK Thomas Aquino PadangTawang – Babakan, SMPK Wana Muri Palasari Palasari – Melaya, SMPK St. Santo Paulus Singaraja Jl. Kartini No.3 Singaraja 81116 Tlp. (0362) 21084, SMPK Kesuma Mataram Jl. Pejanggik 113 Cakranegara;Mataram – Lombok Tlp. (0370) 632217, SMPK St. Antonius Mataram, Jl. Majapahit No. 9 Ampenan (belakang SDK); Telepon (0370) 625955, dan SMPK Diponegoro Sumbawa Besar Jl. Diponegoro No. 34 Sumbawa Besar; Telepon (0371) 621631.
4). Sekolah Menengah Atas :SMAK Santo Yoseph Denpasar Jl. Serma Kawi 4 Denpasar Tlp. (0361) 236459, SMAK Thomas Aquino Tangeb Tangeb - Abianbase- Mengwi Tlp. (0361) 428156, SMK Marga Ginawe Negara Jl. Udayana No. 70; Negara 82212 Tlp. (0365) 41389, SMAK Santo Paulus Singaraja Jl. Kartini No. 1 Singaraja; Tlp. (0362) 21083, SMAK Kesuma Cakranegara Jl. Pejanggik 110 Cakranegara; Mataram – Lombok;Tlp. (0370) 632597, Fax. 645695, dan SMAK St. Gregorius Sumbawa Besar Jl. Diponegoro No. 34 Sumbawa Besar Tlp. (0371) 21856.

Yayasan Kolese St.Yusuf Cabang Denpasar

Yayasan Kolese St. Yusuf (Kosayu) Cabang Denpasar beralamat di Rumah Khalwat Tegaljaya Jl. Kubu Gunung – Tegaljaya - Dalung Tlp. (0361) 426545.Sekolah-sekolah yang bernaung di bawah Yayasan Kosayu Cabang Denpasar adalah:
1)Taman Kanak-Kanak (TKK) : TKK Klungkung Jl. Dewi Sartika Semalapura Tengah Telepon (0363) 21814, TKK Bangli Jl. Ngurah Rai No. 90 Bangli Telepon (0366) 91106 dan TKK Tegal Jaya Jl. Kubu Gunung Br.Tegal Jaya Telepon (0361) 413528.
2). Sekolah Dasar (SD) : SDK Tegal Jaya Jl. Kubu Gunung Br. Tegal Jaya Dalung - Kuta - Badung Telepon (0361) 430715.
3). Sekolah Menengah Pertama (SMP) :SMPK Tegaljaya Jl. Kubu Gunung – Tegaljaya Tlp. (0361) 439424.

Yayasan Marsudirini

Yayasan Marsudirini beralamat di Jl. Kartini No. 1, Negara. Sekolah-sekolah yang bernaung di bawah Yayasan Marsudirini adalah; TKK Maria Fatima Jl. Kartini No.2 Negara Telepon (0365) 41537, SDK Marsudirini Jl. Kartini No. 1, Negara Telepon (0365) 43104 dan SMK Marsudirini Jl. Kartini No. 3, Negara – Jembrana Telepon (0365) 42010.

Yayasan Soverdi

Yayasan Soverdi beralamat di Jl. Kepundung No. 34 Denpasar Tlp. (0361) 225797. Sekolah-sekolah yang bernaung di bawah Yayasan Soverdi: TKK Soverdi Tuban Jl. Kompleks Burung Tuban Telepon (0361) 753544, SDK Soverdi Tuban Jl. Kompleks Burung Tuban Telepon (0361) 759094, SMPK Soverdi Tuban Jl. Kompleks Burung Tuban Tlp. (0361) 764682 dan SMAK Soverdi Tuban Jl. Kompleks Burung Tuban Telepon (0361) 754379.

5. Yayasan Sasana Hasta Karya
Yayasan Sasana Hasta Karya beralamat di Jl. Mulawarman No. 92 A, 80515, Gianyar, Bali. Tlp/Fax. (0361) 944422. Yayasan ini menyelenggarakan Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Keterampilan (Kursus Seni). Pendidikan Utama : Jurusan Meubel,Mesin,Ukir dan Lukis.

Seminari Menengah Roh Kudus Tuka
Seminari Roh Kudus Tuka didirikan pada 9 Juli 1953 oleh P.Nobert Shadeg,SVD. Dalam tulisan bertajuk ‘Uraian Singkat Mengenai Gereja Katolik di Bali-Lombok dari 1950-1961’ seperti termuat dalam ‘Bali Mission History, from Various Author’ (Compilation: N. Shadeg, SVD & Sekretariat Widya Wahana, Seri I Part II, hal.30) Pater Blanken, SVD menulis:’dekat Denpasar desa Tangeb tempat tinggal P.J. Kersten, SVD. pioneer missi Bali/Lombok dipilih untuk menjadi tempat sekolah SMP Katolik yang pertama di Bali dan Lombok. Pada awalnya dijalankan dengan takut apa akan dapat menahan dirinya, berdiri terus, berjalan terus dan untunglah tak lama, nama sekolah itu mulai termasyur juga di antara putera-puteri Bali yang tidak Katolik hingga sekolah itu terjamin…’
Dalam tulisan itu Pater Blanken juga menyebutkan, di samping SMP sebagian dari gedung SMPK Tangeb digunakan sebagai tempat belajar siswa-siswa SMP Seminari Roh Kudus.Dalam catatan sejarah pendidikan di Bali SMPK Tangeb berdiri pada 1 Agustus 1953. Dibukanya SMP Seminari merupakan langkah berani yang dilakukan oleh Pater Norbert Shadeg, SVD misionaris Serikat Sabda Allah asal Amerika Serikat.
Dalam ‘The Christian Family’ (Bali Mission Series No 9 Denpasar, 1990 halaman 37) Pater Shadeg menulis; ‘…inilah impian misiologis seorang misionaris untuk menjadi tidak dibutuhkan lagi sesudah gereja lokal berkembang dan sampai pada suatu tahap otonomi dan kematangan yang memadai. Tahun 1953 merupakan privilese saya untuk membuka sebuah seminari kecil pertama di pulau ini…”
VISI Seminari Roh Kudus Tuka tahun 2010; Mempunyai kelas SMA Seminari sendiri di Tuka. Bila sejak 1981 siswa SMA Seminari mesti bersekolah di SMAK St. Thomas Aquinas Tangeb maka mulai 2010 mereka akan bersekolah di Tuka. Pertimbangan utama guna memaksimalkan proses pendidikan dan pembinaan para seminaris calon imam di Seminari Tuka.Bangunan lama akan direnovasi menjadi Gedung 3 lantai untuk sekolah SMA.
Saat ini Romo Benediktus Deny Mari,Pr dipercayakan sebagai pimpinan Seminari. Alamat yang dapat dihubungi: Seminari Menengah Roh Kudus Tuka PO BOX 18 Sempidi 80351 Denpasar Bali Telp: (0361) 439877.

YAYASAN KESEHATAN DAN SOSIAL

Yayasan Dharma Bhakti Pertiwi

Yayasan Dharma Bhakti Pertiwi (YDBP) didirikan pada tanggal 26 Maret 1975 oleh P.Pancratius Mariatma,SVD, K.Rames Iswara, SH dan Wardiana. Spirit dasar Yayasan Dharma Bhakti Pertiwi adalah pelayanan dan pengabdian dengan mengutamakan orang-orang pinggiran. Sedangkan visi dasar Yayasan adalah Kebersamaan dalam Kasih.Tujuan didirikannya Yayasan ini adalah untuk menaungi beberapa unit karya pelayanan dan pengabdian kemasyarakatan. Ada dua karya pelayanan dan pengabdian masyarakat yang dipayungi oleh Yayasan Dharma Bhakti Pertiwi yakni Panti Kesehatan dan Tempat Penitipan Anak. Dengan didirikannya Yayasan ini maka unit-unit kerja itu mendapatkan aspek legal sehingga bisa melayani masyarakat luas.
Sejak Maret 2005 pengelolaan Tempat Penitipan Anak (TPA) di bawah naungan Yayasan Dharma Bakti Pertiwi telah mendapatkan ijin resmi dari Dinas Kesejahteraan Sosial Propinsi Bali. Pemerintah Propinsi juga mengakui komitmen Yayasan ini dalam memberikan pelayanan kesehatan dan pendampingan anak-anak bukan saja kepada umat katolik tetapi masyarakat umumnya.
Yayasan ini mengelola BP/BKIA/RB/POL. GIGI Panti Rahayu Jl. Gunung Semeru No. 8A Denpasar – Bali; Tlp. (0361) 424426, BP/BKIA/RB/POL. GIGI Panti Swasti Tangeb - Abianbase - Mengwi Tlp. (0361) 428122, BP/BKIA/RB Astiti Tuka - Dalung - Kuta – Badung, BP/BKIA/RB Panti Mulya Cemagi Munggu – Mengwi, BP/BKIA/RB Punia Giri Palasari - Ekasari Melaya – Jembrana dan Dokter Praktek (Umum) Jl. Keboiwa No. 4, Denpasar. Alamat yang dapat dihubungi: Jl. Keboiwa No. 4, Denpasar Tlp. (0361) 8443023.

Yayasan Kertayasa

Yayasan ini mengelola Rumah Sakit Bersalin Kertayasa Jl. Ngurah Rai No. 143 Negara Tlp. (0365) 41248 dan BP/BKIA/RB Dirgahayu Gumbrih - Pekutatan – Jembrana.

Yayasan Arnoldus

Yayasan ini mengelola BP/BKIA/RB Panti Sila Jl. Gunung Agung No. 27 Singaraja Telepon (0362) 22993.

4. Yayasan St. Antonius
Yayasan ini mengelola Rumah Sakit St. Antonius Jl. Koperasi No. 61 Ampenan Lombok – NTB Tlp. (0370) 621397. Yayasan Ratna Miriam
Yayasan ini mengelola BP Sinar Harapan Jl. Dr. Sutomo No. 4; Sumbawa Besar – NTB Tlp. (0371) 21084.

Yayasan Kolese St. Yusuf

Yayasan ini mengelola Poliklinik Tegal Jaya Br. Tegal Jaya – Dalung Kuta – Badung.

Yayasan St. Anthonius

Yayasan ini mengelola Rumah Sakit St. Anthonius Karang Ujung Ampenan Lombok dan beberapa klinik atau BKIA yang ada di Ampenan.

Panti Asuhan

Panti Asuhan Maria Goreti Palasari - Melaya 82252 Telepon (0365) 42126, Panti Asuhan “Sidhi Astu” Jl. Raya Tuka, Tuka Dalung Kuta Utara, Denpasar, Bali, Telepon (0361) 7473382 dan Panti Asuhan Tritunggal Jl. Diponegoro No. 34 Sumbawa Besar 84313 Tlp. (0371) 21935,

Panti Penitipan Anak

Panti Penitipan Anak (TPA) Werdi Kumara Jl. Ida Bagus Oka Gang Rencong No. 9; Denpasar – Bali; Tlp. (0361) 226155, PPA St. Theresia dari Kanak-Kanak Yesus Jl. Diponegoro No. 9 Tabanan Tlp. (0361) 811024, PPA St. Paulus Singaraja, Jl. Kemboja No. 3a Singaraja Tlp. (0362) 21366 dan TPA St. Maria Mataram Jl. Pancawarga No. 10 Mataram Tlp. (0370) 624062.

Asrama

Asrama Putri Cenigan Sari Jl. Cenigan Sari No. 18 Denpasar Tlp. (0361) 726431, Asrama Santa Catarina, Jl. Serma Kawi No. 5 Denpasar Tlp. (0361) 224466 dan Asrama Putri St. Carolus Boromeus Br. Tengah Tangeb – Abianbase Tlp. (0361) 428137.

Rumah Retret

Rumah Retret Betania Kuta (Keuskupan Denpasar) Jl. Kubu Anyar No. 15 Tuban – Kuta Tlp. (0361) 753003, Rumah Khalwat Tegaljaya (CDD) Jl. Kubu Gunung Br. Tegaljaya - Dalung Tlp. (0361) 426545, Wisma Soverdi Bali Wacana (SVD) Jl. Kepundung No. 34 Denpasar Tlp. (0361) 225797, Rumah Retret St. Arnoldus Yansen & Yoseph Freinandemetz (Keuskupan Denpasar) Jl. Majapahit Gg. Sadari No. 1; Ampenan – Lombok Tlp. (0370) 6606372 dan Rumat Retret Biara Karmel (O Carm) Desa/Br. Batunya, Baturiti, Tabanan Tlp. (0368) 21407, 21416.


Yohanes Tobi.
Bapak Yohanes Tobi asal Larantuka Flores sudah berdomisili di Paroki Ampenan pada tahun 1962. Ia mulai bekerja sebagai tukang kebun di Gereja Katolik Ampenan tahun 1980. Ia mengalami masa kegembalaan P.Gierlings,SVD sampai dengan pastor saat ini P.Yoseph Waryadi,SVD dan P. Fransiskus Sidok,SVD. Banyak kemajuan yang dicapai seperti jumlah umat yang bertambah, bangunan gereja dan fasilitas lainnya yang semakin baik. Sebagai umat, Anis juga mengalami masa-masa penuh tantangan dimana Gereja dianiaya.Sebagai umat ia berharap ada kedamaian antar umat beragama.”Harapan saya kiranya jangan lagi ada kerusuhan, jangan lagi ada kekerasan. Biarlah semua orang hidup dalam damai penuh persaudaraan” Ujar Anis yang mengaku sudah berusia 80-an tahun ini.(Pewawancara: Agust G Thuru)

Petrus Selis Tokan
Tokoh umat Paroki Ampenan bapak Petrus Selis Tokan berharap, peristiwa kerusuhan seperti yang terjadi pada tahun 2000 silam jangan sampai terjadi lagi. Untuk itu umat katolik harus juga berinisiatif untuk membangun kerja sama dengan semua golongan agama. Maka tepat kiranya tema Yubileum Membangun gereja yang inklusif dan transformatif. “Kita yang harus aktif membangun pertemanan dengan sama saudara kita yang beragama lain” Ujar Selis Tokan.
Dikatakan Selis Tokan, ada kesan pertambahan umat di Ampenan sangat lamban. Hal ini bukan karena tidak ada karya pewartaan, tetapi karena lingkungan masyarakat yang mengharuskan umat katolik menjadi kelompok kecil atau minoritas. Sementara secara internal iman umat juga kurang kuat sehingga dengan mudahnya pindah agama, meskipun di saat yang sama juga ada yang bergabung ke pangkuan gereja katolik. Ia juga meminta para imam untuk tetap teguh dalam panggilan imamatnya dan berpegang teguh pada ajaran gereja.”Keuskupan kita kurang imam maka imam yang sekarang taat pada imamatnya, berarti taat pula pada Uskup sebagai pimpinan Gereja di keuskupan ini” Ujarnya.
Ia juga berharap agar umat harus mulai dewasa dalam hidup menggereja. Jika dulu para misionaris yang membangun gereja sekarang saatnya awam atau umat paroki yang harus membangun parokinya sendiri.” Kita sedang menuju paroki yang mandiri. Karena itu umat adalah tiang kokoh penopang tetap berkaryanya Gereja di Keuskupan denpasar, khususnya di Paroki Ampenan” Ujarnya.(Pewawancara: Agust G Thuru)


Petrus Ngaga
Bapa Petrus Ngaga dan istrinya Elisabeth Nurina adalah dua dari sekian banyak umat katolik Mataram angkatan 1950 yang saat ini masih hidup. Petrus Ngaga asal Ende Flores sudah berdomisili di Mataram sejak tahun 1950. Ia menikah dengan gadis asli Sasak bernama Nurina.
Ibu Elisabeth Nurina menuturkan, di masa kecilnya ia sering lewat di depan gereja Mataram bila ke Pasar Cakranegara. Ia menyaksikan pastor yang merayakan misa membelakangi umat. Saat itu ia mulai tertarik. Nurina lalu tinggal bersama dengan Bapa Rofinus asal Flores yang adalah koster di Gereja Mataram. Bapa Rofinus pula yang mengurus pernikahannya dengan Petrus Ngaga.”Saya menjadi katolik bukan karena menikah dengan Petrus Ngaga tetapi karena memang saya sudah tertarik dengan katolik” Ujar Elisabeth Nurina.
Bapa Petrus Ngaga mengisahkan bahwa pada tahun 1950 umat belum banyak dan gereja belum megah seperti sekarang ini. Namun ia sangat kagum dengan kerja keras para misionaris SVD yang tak henti-hentinya mengunjungi Mataram dan melayani umat Mataram.” Para imam misionaris sudah kerja keras untuk Gereja di Mataram. Mereka tak pernah kenal lelah” Ujar Petrus yang diamini istrinya Elisabeth.
Kini Gereja Mataram sudah maju, umat sudah banyak dan gereja sudah dibangun dengan megah. Ia berharap agar umat terus berdoa agar tidak terjadi lagi musibah yang membawa kerugian baik secara moral maupun secara material. Ia juga berharap agar umat tetap teguh pada imannya. Bapa Petrus Ngaga dan mama Elisabeth rupanya belajar dari pengalaman dalam keluarga, bagaimana anak-anaknya ada yang memilih jalan hidup di luar gereja.”Ini pengalaman iman keluarga saya yang sangat menyedihkan” Ujar Petrus yang didampingi putrinya Kristin, aktifis Sekami Paroki Mataram. (Pewawancara: Agust G Thuru)

Selerinus Nurak
Bapa Selerinus Nurak berasal dari Maumere Flores dan sudah berdomisili di Praya sejak tahun 1958. Ia menikah dengan wanita asli suku Sasak putri dari almarhum Haji Lalu Muhammad. Tentang perkawinannya dengan putri seorang haji, Selerinus mengisahkan tak ada masalah. Orangtua dari istrinya sama sekali tak mempermasalahkan agama bahkan tak berkeberatan ketika istrinya masuk katolik.
Bagi Selerinus, hidup dan iman umat katolik di Praya ada dalam ujian. Ada tembok besar menghadang di depan seolah menghalangi setiap langkah untuk maju ke depan. Jumlah umat yang nyaris tak berkembang bahkan terus berkurang adalah masalah tersendiri bagi paroki Praya. Banyak umat yang akhirnya memilih meninggalkan Praya setelah peristiwa 7 September 1998 dimana bangunan gereja dibakar dan sampai saat ini berbagai upaya yang dilakukan untuk mendapat ijin membangun kembali rumah ibadat belum mendapatkan hasilnya.”Kami umat katolik Praya masih harus berdoa terus menerus untuk mohon penyertaan Tuhan sehingga terwujud kembali pembangunan gereja” Ujarnya.
Menurut Selerinus, masyarakat di Praya tidak pernah mempersoalkan masalah beda agama. Ia memberi contoh dirinya menikah dengan putri seorang haji dan tidak ada masalah. Kesan adanya jurang perbedaan antar umat beragama justru muncul ditengah suasana reformasi.”Saya tidak tahu mengapa terjadi demikian, tetapi kenyataannya, sampai sekarang umat katolik Praya bagaikan domba-domba tanpa kandang, terus berkelana tanpa tempat berteduh yang pasti” Ujarnya lagi.
Dalam rangka Yubileum 75 tahun Gereja Katolik Keuskupan Denpasar, Selerinus berharap agar ke depan ada upaya-upaya yang lebih konkrit lagi untuk mewujudkan impian umat paroki Praya memiliki gereja. Pendekatan-pendekatan baik kepada instansi yang berwenang maupun kepada masyarakat dan tokoh agama harus terus dilakukan secara intensif.”Kita tak boleh berputus asa untuk berusaha terus mewujudkan impian memiliki gereja di Praya. Saya yakin suatu saat pasti ada jalan keluarnya” Ujar pensiunan pegawai kejaksaan Kabupaten Praya ini.(Pewawancara: Agust G Thuru)

Mikael Abang
Ketua Bidang Pembinaan Iman (BPI) Dewan Pastoral paroki Sang Penebus Sumbawa Mikael Abang menuturkan, Gereja Sang Penebus Sumbawa sudah mengalami banyak kemajuan. Mantan frater Keuskupan Denpasar yang kini PNS di Kementerian Agama Kabupaten Sumbawa ini mengatakan, di masa kecilnya ia mendengar ceritera dari ayahnya Stanis Awang bahwa gereja katolik pada tahun 1955 masih merupakan bagunan darurat yang dindingnya dari gedek terletak di belakang kantor daerah sekarang ini. Gereja yang belum direnovasi dalam bentuk sekarang ini dibangun di atas tanah pemberian Sultan Kaharudin III, sultan terakhir dan Bupati pertama Kabupaten Sumbawa. Sedangkan kompleks persekolahan, susteran JMJ dan lapangan bola kaki dibeli oleh imam-imam CssR.
Bagi Mikael, perkembangan Gereja Sumbawa sungguh luar biasa. Setelah Romo Gede Adiamika menjadi pastor paroki, maka komplek gereja ditata, diberi pagar keliling agar terpisah dengan kompleks sekolah.”Saya merasa kini gereja benar-benar tempat yang sakral. Tak ada lagi binatang berkeliaran di halaman gereja, tak ada anak-anak bermain bola di halaman. Bagi saya, kesakralan gereja harus terjaga. Dan itu sudah dilakukan oleh Romo Gede”Ujarnya.
Dalam kaitan dengan 75 tahun Gereja Katolik Keuskupan Denpasar, ia berharap agar umat tetap teguh dengan imannya apapun yang terjadi dan dalam situasi apapun. Ia juga berharap agar karya-karya pastoral lebih berpihak pada rakyat kecil tanpa memandang suku dan agamanya.
Karena keuskupan sangat kekurangan tenaga imam, maka banyak umat pasti berharap seperti dirinya yakni agar para imam setia pada panggilan imamatnya.”Sebagai umat kita terus berdoa agar para imam tetap setia pada panggilannya. Juga supaya mereka tetap setia pada pimpinan gereja” Ujarnya. .(Pewawancara: Agust G Thuru)

Melkisedek Ranggalehu
Sekretaris Dewan Pastoral Paroki Dompu Melkisedek Ranggalehu mengatakan sangat bersyukur karena Gereja Keuskupan Denpasar telah memasuki usianya yang ke-75 tahun. Sudah banyak kemajuan yang dicapai seperti jumlah umat yang bertambah, karya pastoral semakin beranekaragam, dan bangunan gereja secara fisik pun dapat dengan mudah dibangun.
Namun, ke depan perlu dipikirkan bersama-sama soal panggilan menjadi imam di keuskupan ini.”Menurut saya, minat anak-anak untuk masuk seminari sesungguhnya banyak. Tapi orang tua terpaksa mengurungkan niat mengirim anaknya ke seminari setelah tahu bahwa di seminari biayanya sangat tinggi” Ujar Melkisedek.
Ia mengatakan, mungkin perlu ada gerakan khusus atau ada kelompok-kelompok khusus yang dibentuk dan berkarya secara khusus dalam memfasilitasi anak-anak yang berminat ke seminari. “Saya berharap ke depan ada orang tua asuh untuk para seminaris” harapnya. Ia juga berharap agar para imam yang sekarang ini tetap setia pada panggilannya dan setia pada pimpinan gereja.(Pewawancara: Agust G Thuru)

Fransiskus Jema
Bendahara Dewan Pastoral Paroki Dompu Fransiskus Jema juga berharap hal yang sama. Ia mengharapkan agar para imam memberikan teladan yang baik kepada umat terutama teladan untuk taat pada pimpinan gereja.
Harapan ini dilontarkan karena merasa sedih dengan sikap imam yang melawan uskup.”Para imam sudah berjanji untuk taat pada uskup. Jadi kami para awam ini berharap agar para imam mewujudnyatakan janji saat tabhisan itu dalam perbuatan dan perjalanan panggilan imamat mereka”Ujarnya.
Ia juga minta kepada umat untuk tetap tguh dalam imannya lebih-lebih di sat mereka hidup di tengah masyarakat mayoritas.” Di Paroki Dompu ini banyak umat tinggal di stasi-stasi yang jauh dari pusat paroki dan mereka adalah kelompok kecil. Kita terus memberikan semangat agar mereka tetap taat pada imannya” Ujarnya.(Pewawancara: Agust G Thuru)


Moses Pua Seda
Bapak Moses Pua Seda, kelahiran desa Rega Wudu Boawae Kabupaten Nagekeo dan mulai berdomisili di Bima pada tahun 1955. Ia dan istrinya Maria Woga merupakan umat katolik tertua yang masih hidup. Ia menyampaikan kesan-kesannya selama menjadi umat Paroki St. Yusuf Raba Bima.Didampingi istrinya Maria Woga, Moses Pua Seda yang mengaku telah berusia 82 tahun ini mengaku lahir di Kampung Rega, Desa Wudu Kecamatan Boawae Kabupaten Nagekeo. Ia lupa tanggal berapa tiba di Bima, tetapi yang ia ingat adalah tahun 1955.Ia bertugas di kepolisian Bima sebagai pegawai sipil. Ia menikah dengan Maria Woga pada 8 Agustus 1961 di Gereja Wudu.
Pada tahun 1955, saat ia datang ke Bima umat katolik belum banyak. Mungkin hanya sekitar 20 orang. Seingatnya,waktu itu belum ada gereja. Umat sembahyang dari rumah ke rumah saja. Imam pertama yang menetap di Bima adalah Pater Heribertus Kuper,CssR yang datang ke Bima pada tahun 1963. Selanjutnya para imam CssR, SJ, SVD dan imam praja bergantian melayani umat Raba Bima.
Bagi Moses Pua Seda, perjalanan waktu dari tahun 1955 sampai dengan 2010 ini adalah perjalanan sejarah gereja paroki Bima yang penuh dengan berkah dan karya Roh Kudus. Selama 45 tahun ia telah mengalami pengalaman suka maupun duka. Namun yang membanggakan adalah bahwa Gereja terus mengalami pertumbuhan. Tak terasa, dalam 45 tahun umat berkembang menjadi 1000 lebih.”Ini yang membuat saya bangga. Saya tahu Roh Kudus yang bekerja” Ujarnya saat ditemui di kediamannya Rabu 21 Juli 2010.
Bagi Bapa Moses dan Mama Maria Woga, pengalaman yang membahagiakan sungguh amat banyak, bahkan tak terhitungkan. Namun di tengah pengalaman yang membahagiakan itu terselip pengalaman yang penuh dengan tantangan.Pengalaman yang penuh tantangan itu, memang sudah lama berlalu. Tetapi seringkali terlintas kembali di masa tua saat ini.”Sungguh menantang namun mengharukan karena Tuhan campur tangan” Ujar Moses.
Pengalaman duka pertama yang dialami bapa Moses dan umat katolik Raba Bima (waktu itu masih bergabung Dompu dan Donggo) adalah masalah penganiayaan umat katolik di Donggo pada tahun 1969. Bapa Moses menjadi saksi sejarah yang menyelamatkan nyawa Pastor Kuper pada waktu itu yang diancam akan dibunuh. Akhirnya masalah itu bisa diselesaikan. Pengalaman kedua adalah peristiwa kulit babi pada tahun 1979, dimana ditemukan kulit babi di Mesjid Al Hikmah yang letaknya persis di belakang Gereja Katolik. Bapa Moses dituduh menaruh kulit babi tersebut sehingga ia mendekam dalam sel selama tiga bulan dan akhirnya bebas. Semua pengalaman itu dirasanya sangat manis karena demi Gereja dipenjara sekalipun ia tidak takut.
Kini Gereja Keuskupan Denpasar sudah berusia 75 tahun. Menurut Bapa Moses, umat sudah bertambah banyak. Namun kesadaran umat untuk hidup menggereja semakin luntur. Solidaritas dan kesetiakawanan antar umat semakin menipis. Ia berharap, semakin bertambah usia gereja, semakin kuat iman umat, semakin berakar Gereja di suatu wilayah.(Pewawancara: Agust G Thuru)

Haji Ahmadi
Haji Ahmadi menuturkan, bersyukur karena Gereja di Donggo masih tetap hidup sampai sekarang meskipun dihadang oleh berbagai cobaan terutama peristiwa tahun 1969 yang meluluhlantakkan iman umat dan bangunan gereja.”Kalau saya ingat peristiwa tahun 1969, saya merasa sedih. Meskipun saya pindah agama tetapi rasa hormat saya pada katolik tak pernah berkurang”Ujar Ahmadi yang bernama asli Andreas Piter Benz ini.
Ia bersyukur bahwa Gereja Donggo masih bisa membangun kembali gereja-gerejanya pada tahun 1970. Ahmadi mengaku, dirinya adalah tukang batu yang membangun Gereja Tolonggeru pada tahun 1970-1974 yang kemudian diresmikan pemakaiannya oleh P.Thomas Tepho,SVD pada tahun 1975. Ia berharap tak ada lagi masalah sentimen antar umat beragama, sehingga gereja di Donggo boleh berkembang terus dan kerukunan umat beragama semakin erat.(Pewawancara: Agust G Thuru)

Alfons Subu
Ketua Dewan Pastoral Quasi Paroki Donggo Alfon Subu yang adalah orang Tolonggeru asli mengatakan Gereja Katolik Donggo saat ini terus berkembang meskipun dihadapkan dengan masalah terutama masalah ekonomi. Mayoritas umat katolik Donggo yakni 90 persen adalah petani. Sebagian kecil bekerja sebagai pegawai negeri sipil, pegawai swasta dan buruh di kota Bima.
Ia berharap agar masalah sentimen antar umat beragama tidak terjadi lagi dan kerukunan semakin menyata dalam kehidupan sehari-hari. Dalam rangka 75 tahun Gereja Katolik Keuskupan Denpasar, Alfons berharap agar umat kembali meningkatkan semangat dalam menggereja dan para imam agar memberikan teladan yang baik kepada umatnya. Ia mengharapkan agar para imam tetap setia dalam panggilan dan menunjukkan iktikad baik untuk senantiasa taat pada pimpinan gereja.
Ia juga berharap agar umat di Quasi Paroki Donggo tetap memelihara kerukunan serta tetap mempertahankan sikap gotong royong dalam berbagai kegiatan. “ Umat di sini dari dulu sampai sekarang masih memelihara kebersamaan dan sikap gotong royong. Misalnya saat membangun rumah atau mengerjakan lading. Dan sikap ini harus terus dipelihara.” Ujarnya.
Menurut Alfons, dirinya memberikan hormat kepada para imam yang mempunyai karya-karya social dan memiliki kepedulian yang tinggi terhadap para gelandangan dan pembinaan kaum muda. Namun semua karya itu menjadi berkurang nilainya jika jalan yang ditempuh oleh para imam adalah dengan melawan pimpinan gereja dalam hal ini Uskup.”Secara pribadi saya berharap, para imam yang melawan itu supaya sadar, bahwa imamatnya sah karena ada tumpangan tangan seorang uskup. Jika ia melawan Uskup berarti satu bentuk pengkhianatan” Ujarnya.(Pewawancara: Agust G Thuru)

Ignatius Ismail
Katekis Stasi Mbawa Ignatius Ismail mengatakan sangat bersyukur karena Gereja Katolik Keuskupan Denpasar sudah mencapai usia 75 tahun. Namun tentu saja di depan akan banyak sekali tantangan yang harus dihadapi. Demikian juga dengan umat di Stasi Mbawa, bersyukur karena Gereja Mbawa bisa melewati berbagai tantangan dan iman kepada Kristus masih tetap bertahan sampai sekarang meskipun dalam perjalanan terjadi banyak perpindahan agama. Kata dia, banyak orang katolik khususnya perempuan yang pindah ke agama lain namun di saat yang sama juga banyak dari agama lain yang masuk katolik.
Masalah yang sering muncul adalah jika umat tidak suka dengan pastor atau dengan katekis maka ia akan mogok ke gereja. Ia berharap agar iman umat tidak boleh luntur hanya karena tidak suka dengan sosok seseorang. Selain itu sikap gotong royong antara umat juga mulai semakin pudar. Ia berharap agar solidaritas dan rasa kesetiakawanan social antar umat tetap terpelihara.
Dalam kaitan dengan 75 tahun Gereja Katolik Keuskupan Denpasar, ia berharap agar aspek pembinaan iman anak-anak dan remaja harus lebih menjadi focus. Dewasa ini banyak anak dan remaja yang bersekolah di sekolah negeri dan mereka tidak mendapat pendidikan agama. Ini bias menjadi sebuah masalah.”Gereja ke depan harus benar-benar memperhatikan aspek pembinaan iman anak-anak ini. Gereja harus berani mempekerjakan lagi tenaga katekis khususnya di paroki yang tidak ada sekolah katolik.” Harapnya.(Pewawancara: Agust G Thuru)

Vinsentius Made Sandiarta
Tertarik dengan agama katolik dari teman-teman. Ia mengaku masuk gereja pertama kali pada Natal 1980 di Gereja St. Yoseph Kepundung. Setelah pindah ke Singaraja ia belajar agama katolik pada opa Aliandu dan Sr. Katrin Kumanireng. Pada tahun 1984 ia menerima baptisan dan komuni pertama dari P.Robert Rewu,SVD.
Sebagai umat yang berkomitmen untuk taat pada Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik, ia berharap dengan usia Gereja Keuskupan Denpasar yang sudah menginjak 75 tahun, umat kiranya lebih meningkatkan ‘ketaatan’ pada pimpinan Gereja. Ia juga berharap agar para imam tetap taat pada panggilannya karena saat ini panggilan sangat kurang.”Kita harus terus berdoa tiada henti untuk kesetiaan panggilan para imam.” Ujarnya.
Kerinduan yang masih terus ada dalam dirinya adalah melihat Gereja Katolik di Singaraja kembali seperti sebelum tahun 1995 dimana umat bersatupadu. Karena itu harapannya adalah supaya Gereja di Singaraja kembali bersatu. Ia mengaku tak henti-hentinya berdoa agar Roh Kudus memberikan jalan yang terbaik agar semua masalah bisa diselesaikan dan umat di Singaraja menjadi satu tubuh Kristus dan tak terceraiberaikan.(Pewawancara: Agust G Thuru)

Matheus Yoseph Sarsito
Mantan Kepala SMP dan SMAK St. Paulus Singaraja ini menyatakan rasa syukur karena Gereja Keuskupan Denpasar telah menginjak usianya yang ke-75 tahun. Ibarat manusia maka usia 75 tahun adalah usia senja, tapi sebagai Gereja ini adalah usia matang dalam berkarya menyelamatkan jiwa-jiwa umatnya.
Suami dari Yustina Veronica Suharmipartiwi ini tetap optimis bahwa Gereja katolik akan terus tumbuh dan berkembang dan melakukan banyak hal yang berguna bagi umatnya bukan saja hanya secara rohaniah tetapi juga secara jasmaniah. Misalnya, Gereja kini terus berupaya menyejahterakan umat dengan berbagai program pemberdayaan, salah satunya melalui koperasi kredit.
Menurutnya, dalam usia 75 tahun ini, pertumbuhan koperasi kredit di kalangan gereja katolik sudah sangat berkembang dan mewarnai lingkungan di luar Gereja. “Koperasi kredit,sudah menjadi salah satu karya kerasulan yang turut memperkenalkan Gereja ke tengah para anggota non katolik dan mereka pun memahami Gereja Katolik secara baik dan benar bahwa Gereja sama sekali tidak mengkristenkan orang, tetapi bekerja untuk orang-orang yang berkehendak baik membangun tata dunia baru” Ujarnya.
Soal keberadaan koperasi yang diprakarsai oleh umat katolik, ia mengatakan ada kekhawatiran bahwa koperasi lalu berkembang menjadi semata-mata sebagai lembaga perekonomian dan kehilangan semangat kekatholikannya.”Saya berharap cirri khas kekatholikan dalam koperasi harus tetap dipertahankan. Dengan demikian koperasi yang diprakarsai oleh umat katholik akan tetap menjadi sarana efektif dalam memperkenalkan iman katholik kepada masyarakat umum” Ujarnya lagi.
Sama seperti semua umat katolik di Singaraja, Matehus Yoseph Sarsito juga mengharapkan agar masalah Gereja Singaraja bias diselesaikan dan umat boleh kembali menjadi satu kawanan yang sama-sama berziarah ke rumah Bapa di surga. Menurutnya, harus ada waktunya dimana semua umat belajar untuk setia lagi bukan saja kepada pimpinan Gereja, tetapi juga pada amanat Yesus; “Hendaklah kamu semua menjadi satu, sama seperti Aku dan Bapa adalah satu”. (Pewawancara: Agust G Thuru)

I Made Kembarika,SPd
Meskipun bukan seorang katolik, I Made Kembarika,SPd mengaku sangat kagum dengan Gereja Katolik, terutama karya-karya yang dilakukan oleh umat katolik. Salah satu contoh adalah bagaimana umat katolik di Paroki Negara menjadi motivator bagi umat beragama lain untuk berhimpun dalam wadah koperasi.
Kepala Operasional Koperasi Kredit Bali Arta Mandiri Negara ini menuturkan pengalamannya dalam mendirikan koperasi. Ia diajak oleh Drs. Yohanes Budi Nurseto, salah satu tokoh gereja katolik Negara untuk bersama-sama mendirikan koperasi Bali Arta Mandiri. Ia mengaku, niat baik ini tentu saja disambutnya. Dan ternyata, koperasi Bali Arta Mandiri kini berkembang dan anggotanya dari lintas agama.”Saya percaya setiap apa yang diprakarsai oleh umat katholik adalah perwujudan dari nilai cinta kasih yang diyakinya” Ujarnya.
Ia berharap agar Gereja Katolik terus berkiprah dalam membangun perekonomian rakyat, bukan saja untuk kalangan gereja saja tetapi untuk semua lapisan masyarakat. Kata dia, sekarang ini, semua umat beragama harus menyatukan semangat dan komitmen untuk menciptakan masyarakat yang adil dan sejahtera. (Pewawancara: Agust G Thuru)


1. Peristiwa 1969
Peristiwa 1969 adalah sebuah peristiwa yang mendebarkan, terjadi di Donggo yang saat itu sebagai Stasi dari Paroki Raba Bima. Umat katolik dianiaya dan gereja di Tolonggeru, Mbawa dan Nggerukopa dibakar. Umat katolik dipaksa untuk masuk ke agama lain.
Menurut saksi sejarah Moses Pua Seda, peristiwa itu benar-benar mendebarkan. Pater Kuper,CssR nyaris dibunuh. Namun Tuhan masih melindunginya karena Moses Pua Seda dan beberapa umat katolik dapat menyelamatkannya.
Masalah itu dapat diselesaikan oleh pemerintah Kabupaten Bima. Bahkan pemerintah menyediakan dana untuk membangun kembali kapela yang dibakar massa. Sedangkan umat katolik yang dipaksa masuk agama lain dikembalikan ke pangkuan gereja Katolik atas upaya Bimas Katolik Nusa Tenggara Barat Paulus Boli.

2. Mgr. Dr. Paulus Sani Kleden, SVD Wafat
Tanggal 3 Januari 1961 Prefektur Apostolik Denpasar (Bali-Lombok) ditingkatkan menjadi Keuskupan Denpasar. Tahta suci mengangkat Mgr.Dr.Paulus Sani Kleden,SVD sebagai uskup Keuskupan Denpasar. Namur estela sepuluh tahun menggembalakan umat, Tuhan memanggilnya kembali ke pangkuanNya.Di tengah sidang Majelis Agung Wali Gereja Indonesia (MAWI kini KWI) tanggal 28 November 1971 Mgr.Dr. Paulus Sani Kleden,SVD meninggal dunia di Jakarta. Beliau dimakamkan di Jakarta. Namun jasad Mgr. Paulus Sani Kleden kemudian dimakamkan kembali di Palasari pada tanggal 23 September 1980.

3. Peristiwa ‘Kulit Babi’ Raba Bima
Peristiwa kulit babi adalah peristiwa yang terjadi pada Jumat 27 September 1979. Ketika saudara-saudara umat Islam melaksanakan sholat Jumat di Mesjid Al Hikmah yang letaknya persis di belakang Gereja Katolik, umat Islam digegerkan dengan kulit babi yang diletakan di dekat mimbar imam. Temuan itu sontak menimbulkan amarah umat Islam sehingga pembakaran asrama pun tak terlehkan.
Atas peristiwa itu Kasdim Kodim Bima Kapten Samadi menangkap Moses Pua Seda dan seorang umat lainnya, juga menangkap dua anak yakni A Wahab Ismail (10 tahun) dan Saleh (6 tahun). Selama tiga bulan Moses yang waktu itu adalah karyawan sipil Kantor Polisi Bima disel dan dipaksa mengakui bahwa ia menaruh kulit babi itu di Mesjid Al-Hikmah. A.Wahab Ismail dan Saleh pun dipaksa bahwa mereka melihat Moses Pua Seda menaruh kulit babi di Mesjid.
Namun dalam kesaksian Moses dan anak-anak itu secara tegas mengatakan tidak melakukan atau melihat perbuatan Moses. Dari persidangan terungkap bahwa Kapten Samadi pada Jumat 27 September 1979 dini hari (pukul 02.00 Wita) memasuki mesjid dan menaruh kulit babi berukuran 45 cm x 30 cm yang terbungkus plastic dan diletakkan dekat mimbar tempat khatib berkotbah. Perbuatannya dilatarbelakangi oleh ketidaksukaannya pada Pangdam XVI Udayana (waktu itu) yang mengangkat Kapendam XVI Udayana Mayor E Permana diangkat menjadi Dadim Bima. Maka Samadi berusaha untuk membuat kerusuhan antar umat beragama di Bima kemudian ia tampil sebagai ‘pahlawan’ yang menyelesaikan kerusuhan itu sehingga Pangdam menilai bahwa ia berjasa dalam meredam aksi kerusuhan tersebut. Kaptem Samadi akhirnya dipenjara 20 tahun dan dipecat dari dinas militer.

4. Mgr. Anthon Tijisen,SVD Wafat
Tanggal 12 Januari 1973 Mgr.Antonius Tjisen,SVD diangkat menjadi Administrator Apostolik Keuskupan Denpasar. Pada tahun 1981 ia mengundurkan diri dari jabatan Uskup Denpasar dengan alasan kesehatan tak memungkinkannya menjalankan tugas. Ia lalu digantikan oleh Mgr. Vitales Djebarus,SVD.Pada tanggal 7 Juni 1982 Mgr. Anton Tijsen,SVD meninggal di RKZ Vinsensius Surabaya. Jenasahnya diterbangkan ke Denpasar dan selanjutnya pada tanggal 9 Juni 1982 dimakamkan di Palasari.

5. Pembakaran Gereja Yohanes Pemandi Praya
Peristiwa itu terjadi pada 7 September 1998. Tanpa diketahui sebab atau apa kesalahan Gereja Katolik tiba-tiba saja ratusan orang melakukan aksi kekerasan dengan membakar Pastoran dan gudang yang saat itu difungsikan sebagai Gereja. Pastor Paroki waktu itu P. Thomas Tepho,SVD nyaris menjadi korban. Ia diselamatkan oleh seorang umat dengan cara melompat lewat tembok belakang dan digendong oleh umat lalu lari melalui persawahan. Nyaris menjadi korban juga katekis Mikael Nomite.
Sejak tahun 1998 sampai sekarang, Gereja Praya tak diijinkan lagi untuk dibangun. Umat terpaksa harus melakukan ibadah di Kodim, juga di Aula Depertemen Agama Kabupaten Lombok Tengah. Namun sejak beberapa tahun lalu umat tak bisa lagi menjalankan ibadah di kedua tempat tersebut. Sampai sekarang tak ada kegiatan perayaan ekaristi Minggu di Praya. Umat harus ke Gereja di Mataram.

6. Uskup Vitalis Djebarus,SVD Wafat
Tanggal 13 Januari 1981 Mgr. Vitalis Djebarus,SVD dilantik sebagai Uskup Keuskupan Denpasar menggantikan Mgr. Antonius Tijsen,SVD yang mundur karena alasan kesehatan. Sejak tahun 1996 kesehatan Mgr. Vitalis Djebarus,SVD mulai menurun.Tanggal 22 September 1998 Uskup Denpasar Mgr.Vitalis Djebarus,SVD wafat di RS Katolik Sint Carolus Jakarta. Jenasahnya diterbangkan ke Denpasar tanggal 23 September 1998 dan disemayamkan di Gereja Katolik St. Joseph Kepundung. Tanggal 24 September 1998 umat menghantarnya ke pemakaman rohaniawan di Palasari tempat dimana ia beristyirahat dengan damai.

7. Kerusuhan Mataram
Pada tahun 2000 terjadi peristiwa yang sangat memilukan. Pada tanggal 17 Januari 2000 terjadi kerusuhan yang berbau SARA di Mataram dimana umat kristiani dijadikan sasaran amuk masa. Sekelompok masyarakat Muslim mengadakan tablik akbar di lapangan Mataram untuk solidaritas Ambon. Pada kesempatan itu seorang penceramah memprovokasi masa dengan ceramahnya. Masyarakat yang terprovokasi itu setelah membubarkan diri mulai bergerak ke segenap penjuru kota dan melakukan kerusuhan. Bermula dari pelemparan gereja GPIB yang ada di samping kantor walikota dan pembakaran sebuah mobil yang di parkir di pinggir jalan depan gereja itu, masa bergerak menuju ke arah timur melalui jalan Pejanggik dan membakar baik gereja, pastoran dan aula Paroki Mataram. Semua bangunan dan segala perlengkapannya hangus terbakar. Umatpun mengungsi ke mana-mana untuk menyelamatkan diri. Setelah 3 hari kerusuhan yang dikenal dengan peristiwa 171 itu berhasil dikendalikan oleh aparat keamanan.
Kompleks gereja Mataram mulai dibangun kembali tgl 1 September 2002 dalam ibadat sabda yang ditandai dengan acara pemukulan gong yang dihadiri oleh pastor paroki P. Rosarius Geli, SVD, Panitia Pembangunan, para Pengurus Dewan Pastoral, para Ketua Lingkungan separoki dan tokoh-tokoh umat bertempat di aula paroki yang rusak yang berada di belakang gereja. Pembangunan gereja dimulai dengan upacara peletakan batu pertama pada pesta pelindung Paroki Maria dikandung tanpa noda yang dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 12 Desember 2004 setelah misa kudus meriah. Acara peletakan batu pertama dihadiri oleh umat dan undangan dari pemerintahan kota Mataram, walikota, kakandepag kota, dan para pimpinan lembaga keagamaan.
Dalam kata sambutannya walikota mataram mengungkapkan bahwa dia sendiri tak mendukung kegiatan tablig akbar dalam peristiwa 171 yang berbuntut perusakan beberapa tempat ibadat. Dan kehadirannya dalam upacara ini adalah wujud penghormatannya kepada semua agama. Memang gereja katolik mataram mencatat sejarah baru akan hadirnya seorang nomor satu kota mataram di kompleks gereja mataram.

8. Uskup Mgr. Dr. Benyamin Bria,Pr Wafat
Tanggal 18 April 2000 Paus Johanes Paulus II mengangkat Romo Benyamin Y Bria,Pr, imam praja dari Keuskupan Atambua menjadi Uskup Keuskupan Denpasar. Umat menyambutnya dengan sukacita meskipun sosok Mgr. Benyamin Belum dikenal. Selama tujuh tahun menggembalakan umat di keuskupan Denpasar, secara fisik kesehatan Mgr. Benyamin baik-baik saja. Ternyata Sejak tahun 2006 Mgr. Benyamin mengalami sakit dan karena itu iapun menjalani perawatan di RSK Sint Carolas lalu dirujuk ke RS Sint Elisabeth Singapura.Pada 18 September 2008 Mgr. Benyamin meninggal di Singapura dan jenasahnya diterbangkan ke Denpasar pada 19 September 2008. Ia disemayamkan di di Gereja Kathedral Denpasar dan ribuan umat serta para uskup datang melayat. Taggal 22 September 2008 umat menghantar Mgr. Benyamin ke Palasari dan di Taman Makam para rohaniawan Palasari yang mulia Mgr. Benyamin Bria beristirahat dalam damai.

9. Masalah Paroki Singaraja
Masalah paroki St. Paulus Singaraja berawal pada tahun 1996 ketika P. Yohanes Tanumiarja,SVD, pastor paroki St. Paulus Singaraja menolak untuk dipindahkan ke Paroki St. Petrus Monang Maning. Ia juga memperlihatkan sikap tidak taat pada SK maupun surat peringatan Uskup Denpasar waktu itu Mgr. Vitalis Djebarus,SVD. Dampak dari ketidaktaatan P. Yohanes Tanumiarja adalah umat terpecah menjadi dua kelompok. Yang tetap setia pada Uskup memilih menjalankan ibadat di luar Gereja jalan Kartini. Sedangkan umat yang taat pada P. Yan Tanumiarja tetap beribadat di Jalan Kartini.
Dalam perkembangannya, Uskup Denpasar mencabut yurisdiksinya dan bahkan dipecat dari keanggotaan di Serikat Sabda Allah.Meski demikian P. Yan Tanumiarja tetap bertahan di Paroki Singaraja, tidak mau pindah, dan tidak menunjukkan iktikad baik untuk menyelesaikan masalah. Uskup Denpasar Mgr. Benyamin Bria,Pr sudah berulangkali melakukan pendekatan dengannya bahkan memintanya untuk menjadi imam praja di salah satu keuskupan di Indonesia namun hingga Uskup Benyamin wafat tak ada jawaban dari Yan Tanumiarja.
Setelah ditahbiskan sebagai Uskup Denpasar Mgr. Dr. Silvester San,Pr berulangkali melakukan pendekatan, bahkan meminta P. Yan Tanumiarja agar bersedia menjadi imam praja Keuskupan Denpasar. Namun P. Yan Tanumiarja tetap menunjukkan sikap keras kepalanya. Pada Selasa 24 Agustus 2010 ratusan umat katolik dari Denpasar mengangkut secara paksa P. Yan Tanumiarja dari Pastoran Paroki St. Paulus Singaraja untuk dikembalikan ke keluarga di Desa Tuka. Demikian juga dengan para pendukungnya terutama koster dan keluarganya yang selama ini tinggal di lingkungan Gereja St. Paulus.
Cara penyelesaian terakhir ini memang harus dilakukan sebab jika tidak, akan makin banyak umat yang statusnya secara sacramental tidak jelas. Sebab hhkum gereja (kitab hukum kanonik) tidak membolehkan seorang imam yang yurisdiksinya telah dicabut Uskup menjalankan tugas-tugas pastoral.

10. Cornelia I Made Redeng
Dalam catatan sejarah P. Simon Buis,SVD bersama puluhan umat dari Desa Tuka Dalung hijrah ke Bali Barat, tepatnya di Palasari. Dan umat yang ikut bersama P. Simon Buis satu persatu kembali ke pangkuan Bapa di Surga. Tapi saat ini masih ada tiga orang pelaku sejarah yang masih hidup. Mereka adalah Cornelia I Made Redeng, istri dari almarhum Cornelius I Made Kebek yang baru saja meninggal 12 Maret 2009 lalu, I Ketut Celonok (Pan Sukantra) dan Ibu Nyoman Tari.
Ibu Cornelia I Made Redeng kini tak bisa berkomunikasi karena usianya sudah hamper 90 tahun. Ia lahir di Tuka tahun 1915 dan saat ini masih kuat berjalan. Hanya saja sudah tidak bias berkomunikasi. Menurut anak keduanya Ni Made Kandra, ibu Redeng sering pergi tanpa tujuan sehingga membingungkan keluarga.”Ibu datang ke Palasari bersama bapa dalam rombongan Pater Simon Buis,SVD.” Ujarnya. Jika masih ada saksi sejarah berdirinya Paroki Palasari saat ini masih hidup ini tentu peristiwa yang mengharukan.

11. Matheus Nyoman Pegeg
Setelah Pastor Simon Buis,SVD membawa umat dari Tuka ke Palasari, tahap selanjutnya adalah membangun kehidupan. Maka pembangunan secara fisik pun dilakukan terutama gedung gereja dan sekolah. Pembangunan secara rohaniah pun tak bisa diabaikan. Maka P. Simon Buis,SVD meminta Matheus Nyoman Pegeg dari Tuka untuk menjadi katekis di Palasari. Dan berangkatlah Matheus Nyoman Pegeg bersama istrinya Josefina Nyoman Lange ke Palasari. Mereka adalah generasi kedua yang meninggalkan Tuka untuk menetap di palasari.
Bapa Matheus Nyoman Pegeg lahir di Tuka tahun 1922 dan saat ini masih bias jalan-jalan meskipun menggunakan tongkat. Bapak Matheus pun masih bias berkomunikasi asal yang dikomunikasikan itu adalah yang masih diingatnya. Yang sangat diingatnya adalah saat istri tercinta meninggal beberapa tahun lalu.”Saya lihat kepalanya tunduk terus. Saya Tanya dia mengapa tunduk terus.” Ujar Matheus dengan suara gemetar.
Selain mengabdikan diri sebagai katekis, bapa Matheus juga mengabdikan diri sebagai guru di SDK Mardi Yuana Palasari. Dalam mengarungi bahtera keluarga, ia dikaruniai 11 putra-putri. Anak sulung tak lain adalah Romo Marcel Gede Myarsa,Pr, Pastor Paroki Negara dan deken Bali Barat. Ketika ditanya apakah bapa Matheus bahagia ada anak yang dipanggil menjadi imam, ia menganggukkan kepala sambil tersenyum. Ini sungguh mengharukan.


Tuhan mengutus para imam baik misionaris yang datang dari negeri yang jauh maupun para imam dari keuskupan lain di Indonesia untuk berkarya di Keuskupan Denpasar yang meliputi wilayah pulau Bali, Lombok dan Sumbawa. Mereka adalah para imam dari beberapa serikat atau kongregasi seperti Serikat yesus, SVD, CssR, para imam praja dan lain-lain.
Nama mereka tentu telah terukir dalam sejarah Paroki dimana mereka pernah mengabdi. Ada yang kembali ke negeri asalnya atau pindah ke keuskupan atau Negara lain dan ada pula yang memilih tetap mengabdikan diri di Keuskupan Denpasar bahkan wafat di negeri ini. Dan itulah pengabdian, sebuah kesetiaan atas panggilan sampai akhir hayat.
Dan kini, di saat usia Gereja Katolik Keuskupan Denpasar memasuki 75 tahun barisan para imam baik diosesan maupun biarawan dalam kesetiaan kepada pimpinan gereja lokal Keuskupan Denpasar Mgr. Dr. Silvester San,Pr meneruskan karya-karya dari para pendahulu. Lalu dari titik 75 tahun Gereja Katolik Keuskupan Denpasar, barisan kelrus dan kaum awam bersama-sama melangkah ke masa depan Gereja yang lebih mandiri, mapan dan dewasa.

Mgr. Dr. Silvester San,Pr

Mgr. Dr. Silvester San, Pr, lahir di Mauponggo Flores 14 Agustus 1961 dari pasangan Roben Robo dan Katharina Nere.
Menyelesaikan pendidikan di SDK Maukeli Ngada tahun 1973, lalu melanjutkan ke SMP dan SMA Seminari Mataloko tahun 1974-1989. Tahun rohani dijalankan di Seminari Ritapiret tahun 1980 lalu studi filsafat dan teologi di STFK Ledalero tahun 1980 – 1988.
Tanggal 29 Juli 1988 ditahbiskan menjadi imam di Maumere oleh Mgr. Donatus Djagom,SVD. Karya pastoral yang dijalankan setelah ditahbiskan adalah Pastor Pembantu di Paroki Mataloko dan mengajar di Seminari Mataloko dari tahun 1988-1990. Lalu melanjutkan studi bidang Teologi Biblis di Universitas Urbaniarum, Roma hingga memperoleh gelar licenciat tahun 1992 dengan tesis ‘The Mercy of God in the Parables of Luke 15”.
Setelah itu kembali ke Indonesia dan berkarya sebagai Pembina para frater di Seminari Tinggi Ritapiret serta mengajar di STFK Ledalero. Tahun 1995-1997 kembali melanjutkan studi di Universitas Urbaniarum untuk bidang studi Teologi Biblis dan meraih gelar doctor dengan disertasi “The experience of the Risen Lord in Luke 24:1-35). Setelah kembali ke Indonesia ditugaskan sebagai pengajar di STFK Ledalero dan Pembina para frater di Seminari Tinggi Ritapiret. Tahun 2004-2007 dipercayakan sebagai Praeses Seminari Ritapiret dan dipercayakan lagi sebagai Praeses Seminari Ritapiret tahun 2007 sampai diangkat menjadi Uskup Denpasar. Tanggal 22 Novembe